Rabu, 10 Februari 2016

Kerajaan Islam di Pulau Jawa

Posted By: Unknown - 01.38.00
KERAJAAN ISLAM DI JAWA

 (Hanya Pokonya Saja)



A.    Kerajaan Demak      
      
     Demak adalah kesultanan atau kerajaan Islam pertama di pulau jawa. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah (1478-1518) pada tahun 1478, Raden Patah adalah bangsawan kerajaan Majapahit yang menjabat sebagai adipati kadipaten Bintara, Demak. 
Pamor kesultanan ini didapatkan dari Walisongo.
Raden patah memutuskan ikatan dengan Majapahit karena Majapahit tengah berada dalam kondisi yang sangat lemah.Sehingga Radeh Patah menyatakan kemandirian Demak dan mengambil gelar Sultan Syah Alam Akbar.
     Raden Patah memiliki adik laki-laki, tapi beda ayah. Saat memasuki usia belasan tahun, raden patah bersama adiknya berlayar ke Jawa untuk belajar di Ampel Denta. 
Raden patah mendalami agama Islam bersama pemuda-pemuda lainnya, seperti:
☞ Raden Paku (Sunan Giri), 
☞ Makhdum ibrahim (Sunan Bonang), dan
☞ Raden Kosim (Sunan Drajat). 

Hanya tiga sultan Demak yang namanya cukup terkenal, Yakni :
☞ Raden Patah sebagai raja pertama, 
☞ Adipati Muhammad Yunus atau Pati Unus sebagai raja kedua, dan 
☞ Sultan Trenggana, saudara Pati Unus, sebagai raja ketiga (1524 – 1546). 

    Dalam masa pemerintahan Raden Patah, Demak berhasil dalam berbagai bidang, diantaranya adalah : 
☞ perluasan dan pertahanan kerajaan 
     (melanklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga dapat         menggambil alih kekuasaan majapahit,mengadakan perlawan terhada portugis, yang           telah menduduki malaka dan ingin mengganggu demak)
☞ pengembangan Islam dan pengamalannya,
     (Raden patah mencoba menerapkan hukum Islam dalam berbagai aspek kehidupan,      membangun istana dan mendirikan masjid Agung Demak)
☞ penerapan musyawarah dan kerja sama antara ulama dan umara (penguasa).        

    Sultan Trenggana lah yang berhasil menghantarkan Kusultanan Demak ke masa jayanya. Pada masa trenggana, daerah kekuasaan demak bintara meliputi seluruh jawa serta sebagian besar pulau-pulau lainnya. Aksi-aksi militer yang dilakukan oleh Trenggana berhasil memperkuat dan memperluas kekuasaan demak
     Di masa jayanya, Sultan Trengana berkunjung kepada Sunan Gunung Jati. Dari Sunan gunung jati, Trenggana memperoleh gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. 
Sultan Trenggana meninggal pada tahn 1546, dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuran. Ia kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto. 
Setelah sultan trenggana wafat, munculnya kesultanan pajang. Masjid Demak didirikan oleh Walisanga secara bersama-sama. Majid agung Demak menjadi pusat kegiatan kerajaan Islam pertama di jawa. Bagunan ini juga dijadikan markas para wali untuk mengadakan Sekaten.  


B. Kesultanan Cirebon            
Kesultanan Cirebon adalah sebuah kerajaan Islam yang ternama di Jawa Barat. Kerajaan ini berkuasa pada abad ke 15 hingga abad ke 16 M. Letak kesultanan Cirebon adalah di pantai utara pulau Jawa. 
Dalam buku “Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cerbon 1479-1809” dijelaskan bahwa ada beberapa proses yang terjadi terkait pertumbuhan Islam di Cirebon yaitu:
1.Tahun 1415 berlabuh kapal dari Armada Te Ho bersama sekretarisnya Ma Huang
2.Tahun 1418 telah datang rombongan pedagang dari Campa, dimana terdapat Syeh     Hasanudin bin Yusuf Sidik seorang ulama  penyiar Islam
3.Tahun 1418 Putri Ki Gedeng Tapa Nhay Subang Larang disuruh ayahnya belajar ilmu agama Islam di pesantren Syeh Quro di Karawang
4. Tahun 1420 datang rombongan ulama bernama Syeh Datuk Kahfi. 

Ketika kakek ki gedeng Tapa meninggal, pangeran cakrabuana tidak meneruskannya, melainkan mendirikan istana Pakungwati, dan membentuk pemerintahan Cirebon. Dengan demikian yang dianggap sebagai pendiri pertama kesultanan Cirebon adalah pangeran Cakrabuana (1479). Seusai menunaikan ibadah haji, cakrabuana disebut Haji Abdullah Iman, dan tampil sebagai raja Cirebon pertama yang memerintah istana pakungwati, serta aktif menyebarkan Islam.
Pada tahun 1479 M, kedudukan Cakrabuana digantikan oleh keponakannya. Keponakan Cakrabuana tersebut merupakan buah perkawinan antara adik cakrabuana, yakni Nyai Rarasantang, dengan Syarif Abdullah dari Mesir. Keponakan Cakrabuana itulah yang bernama Syarif Hidayatullah (1448 – 1568 M). Setelah wafat, Syarif Hidayatullah dikenal dengan nama sunan Gunung Jati, atau juga bergelar ingkang Sinuhun Kanjeng Jati Purba Penetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatura Rasulullah.        
    Pertumbuhan dan perkembangan kesultanan Cirebon yang pesat dimulai oleh syarif Hidayatullah. Ia diyakini sebagai pendiri dinasti kesultanan Cirebon dan banten.
Setelah Syarif Hidayatullah wafat pada tahun 1568, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon.
Fatahillah kemudian naik tahta, secara resmi menjadi sultan Cirebon sejak tahun 1568.      hanya dua tahun Fatahillah menduduki tahta Cirebon, karena ia meninggal pada 1570.           Sepeninggal Fatahillah, tahta jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati, yaitu pangeran Emas. Pangeran emas kemudian bergelar panembahan ratu I, dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun. Setelah panembahan ratu I meninggal pada tahun 1649, Pada masa pemerintahan Panembahan Girilaya. 

Cirebon terjepit di antara dua kekuatan, yaitu kekuatan Banten dan kekuatan Mataram. Banten curiga, sebab cirebot dianggap mendekat ke Mataram. Di lain pihak, Mataram pun menuduh Cirebon tidak lagi sungguh-suingguh mendekatkan diri, karena panembahan Girilaya dan Sultan Ageng dari banten adalah sama-sama keturunan pajajaran. 
    Kondisi panas ini memuncak dengan meninggalnya panembahan Girilaya saat berkunjung ke Kartasura. 
Dengan kematian panembahan Girilaya, terjadi kekosongan penguasa. Sultan ageng tirtayasa segera dinobatkan pangeran Wangsakerta sebagai pengganti panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten. Sultan ageng tirtayasa pun kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu trunajaya, yang pada saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram.
   Dengan bantuan Trunajaya, maka kedua putra penembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan, dan dibawa kembali ke Cirebon.
 
Panembahan Girilaya memiliki tiga putra, yaitu :
☞ Pangeran Martawijaya atau sultan Kraton Kasepuhan,gelar Sepuh Abi Makarimi Muhammad Samsudin (1677 – 1703) 
☞ Pangeran Kartawijaya atau Sultan Kanoman, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677 – 1723)
☞ Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon, dengan gelar pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677 – 1713)

Perubahan gelar dari “panembahan” menjadi “sultan” bagi dua putra tertua pangeran girilaya dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Sebab, keduanya dilantik menjadi sultan Cirebon di Ibukota banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing
Perpecahan karena pangeran raja kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama kesultanan KaCirebonan mengakibatkan dihapusnya Cirebon. 


C. Kerajaan Banten            
     Banten awalnya merupakan salah satu dari pelabuhan kerajaan Sunda. Pelabuhan ini direbut 1525 oleh gabungan dari tentara Demak dan Cirebon.
Kerajaan Banten yang letaknya di ujung barat Pulau Jawa dan di tepi Selat Sunda merupakan daerah yang strategis karena merupakan jalur lalu-lintas pelayaran dan perdagangan khususnya setelah Malaka jatuh tahun 1511, menjadikan Banten sebagai pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai bangsa. Pelabuhan Banten juga aman, sebab terletak di sebuah teluk yang terlindungi oleh Pulau Panjang, dan di samping itu Banten juga merupakan daerah penghasil bahan ekspor seperti lada.   
        
Silsilah Raja-raja Banten sampai dengan Sultan Agung Tirtayasa.
Seluruh daerah Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Banten. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan raja Panembahan Yusuf.

Pemerintahan Sultan Ageng, Banten mencapai puncak keemasannya Banten menjadi pusat perdagangan yang didatangi oleh berbagai bangsa seperti Arab, Cina, India, Portugis dan bahkan Belanda. 
karena Belanda sudah memonopoli perdagangan di Banten. Akibat terberatnya adalah kehancuran dari kerajaan Banten itu sendiri karena VOC mengatur dan mengendalikan kekuasaan raja Banten. 

D. Kerajaan Pajang
     Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Sultan Adiwijaya pada tahun 1568,
tidak berumur panjang. 
Aria Panangsang, diberi kekuasaan di Mataram, sedangkan Ki Ageng Panjawi
diberi kekuasaan di Pati.
     Sepeninggal Ki Ageng Pamanahan (1584), putranya yang bernama
Panembahan Senopati Ing Alaga (Sutawijaya), menggantikan kedudukan
ayahnya sebagai Adipati Mataram dan sekaligus diangkat sebagai panglima
tentara Pajang. Setelah Sultan Adiwijaya meninggal tahun 1582, takhta Pajang direbut Aria Pangiri (menantu Adiwijaya). Putra Adiwijaya yang bernama Pangeran Banowo meminta bantuan kepada Adipati Mataram, Panembahan Senopati, untuk merebut takhta kerajaan. Aria Pangiri kalah dan melarikan diri ke Banten, sementara Pangeran Banowo menyerahkan takhta kerajaan kepada Panembahan Senopati. Berakhirlah Kerajaan Pajang dan selanjutnya berdirilah Kerajaan Mataram.


E. Kerajaan Mataram Islam        
    
      Kerajaan Mataram didirikan oleh Panembahan Senopati Ing Alaga
(Sutawijaya) (1584-1601), pada sekitar abad ke-16. Pusat kerajaan terletak
di Yogyakarta. Ia mempunyai cita-cita untuk mempersatukan Jawa ke dalam
pengaruh kekuasaannya. 
Senopati meninggal tahun 1601, dan dimakamkan di Kota Gede. Ia digantikan oleh putranya bernama Mas Jolang terkenal dengan nama Panembahan Seda Ing Krapyak (1601-1613).
     Pada masa kepemimpinan Sultan Agung, Mataram mengalami kejayaan
dalam berbagai bidang di antaranya dalam bidang perekonomian, kebudayaan, seni sastra, Sultan Agung juga menciptakan tradisi Syahadatain (dua kalimah syahadat) atau Sekaten, yang sampai sekarang tetap diadakan di Yogyakarta dan Cirebon setiap tahun.
     Pada tahun 1645, Sultan Agung wafat dan dimakamkan di situs pemakaman di puncak bukit tertinggi di Imogiri, yang ia buat sebelumnya. Kerajaan Mataram kemudian dipimpin oleh putranya, Amangkurat I (1647-1677). Pada masa pemerintahannya, Mataram mengalami kemunduran karena masuknya pengaruh Belanda. Amangkurat I dan pengganti-pengganti selanjutnya bekerja samadengan VOC dan penguasa Belanda. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menguasai tanah Jawa yang subur. Belanda berhasil memecah belah Mataram. 

Pada tahun 1755 dilakukanPerjanjian Giyanti, yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua wilayah kerajaan, yaitu:
 Daerah kesultanan Yogyakarta yang dikenal dengan nama Ngayogyakarta
Hadiningrat dipimpin oleh Mangkubumi sebagai rajanya dengan gelar
Sultan Hamengkubuwono I.
Hadiningrat dipimpin oleh Mangkubumi sebagai rajanya dengan gelar
Sultan Hamengkubuwono I.
Hadiningrat dipimpin oleh Mangkubumi sebagai rajanya dengan gelar
Sultan Hamengkubuwono I.
☞ Daerah Kasunanan Surakarta, dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwono. Campur tangan Belanda mengakibatkan kerajaan Mataram terbagi menjadi beberapa bagian, sehingga pada tahun 1813 terdapat empat keluarga raja yang masing-masing memiliki wilayah kekuasaan, yaitu: 
Kerajaan Yogyakarta,  
Kasunanan Surakarta, 
Pakualaman, dan 
Mangkunegaran.



 C.   Kerajaan Mataram  

Sutowijoyo adalah merupakan raja pertama (1586-1601) dengan gelar Panembahan Senapati Sayyidin Panotogomo (yang dipertuan mengatur agama) dengan ibu kotanya Kota Gede (Yogyakarta).
 Pada masa pemerintahan beliau, usaha-usahanya antara lain:
1.   Mempersatukan Jawa di bawah satu pemerintahan di Mataram
2.   Perayaan Grebeg yang telah menjadi tradisi nenek moyang sejak sebelum Islam,     disesuaikan dengan perayaan hari raya Idul Fitri dan Maulid Nabi Muhammad, Saw.
3.   Sejak Tahun 1633, ia mengadakan tareh baru. Tahun 1633 itu adalah tahun caka 1555. Perhitungan tahun baru ini kemudian disebut tahun Jawa Islam.
4.   Gamelan Sekaten yang semula hanya dibunyikan pada Grebeg Maulid itu, atas kehendak beliau dipukul di halaman masjid besar.
5.   Memperluas daerah pertanian dengan memindahkan penduduk dari Jawa Tengah ke daerah lainnya.
6.   Perdagangan dengan luar negeri tetap dijalankan melalui pelabuhan-pelabuhan besar seperti Cirebon (Jawa Barat), Pekalongan dan Gresik.


Tahun 1645, beliau wafat di gantikan anaknya, Amangkurat I atau Sunan Tegalwangi yang memerintah selama 32 tahun (1645-1677). Amangkurat I terkenal sebagai raja yang lalim dan curiga terhadap siapa saja. Sementara itu terjadi juga pemberontakan Trunojoyo yang mendapat bantuan dari beberapa daerah seperti Banten. Pada tanggal 2 Juli 1677 Mataram jatuh ke tangan Trunojoyo. Namun Amangkurat II pada tahun 1677-1679 yang memerintah. Dia hendak merebut Mataram dengan meminta bantuan Belanda, maka orang-orang Jawa yang kuat Islamnya tidak mau mengakui Amangkurat II sebagai rajanya. Sebaliknya mereka memandang Trunojoyo sebagai pelindung agama Islam. Amangkurat II tetap bertekad untuk merebut kembali Mataram, akhirnya cita-citanya terkabul. Adapun Trunojoyo dengan pengiringnya melarikan diri dan pada tahun 1679 mereka menyerah kepada Belanda. Kejayaan Mataram semakin menurun semasa pemerintahan Amangkurat II. Satu demi satu wilayah kekuasaan Mataram dikuasai oleh VOC (Belanda). Kemudian raja memindahkan pusat pemerintahan dari Mataram ke Kartasura. Di tempat baru itu ia menjalankan pemerintahan terhadap sisa-sisa wilayah Mataram, sampai ia wafat 1702. Keruntuhan Mataram sudah diambang pintu. Tahun 1755, dengan campur tangan VOC, kerajaan Mataram dibagi menjadi dua wilayah melalui perjanjian Giyanti, yaitu sebagai berikut;1.   Kesultanan Yogyakarta atau Ngayogyakarta Hadiningrat diperintah oleh Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I.
2.   Kesultanan Surakarta atau Kasunanan Surakarta diperintah oleh Sri Susuhunan Pakubuwono III.
Pada tahun 1757, kembali dengan campur tangan VOC, Mataram terpecah belah lagi melalui perjanjian Salatiga. Mataram menjadi kerajaan kecil sebagai berikut:1.   Kesultanan Yoyakarta
2.   Kesultanan Surakarta
3.   Kadipaten Pakualaman
4.   Kadipaten Mangkunegaran.
Sehingga Kerajaan Mataram Islam akhirnya tinggal nama saja sedangkan kekuasaan mutlak tetap di tangan Belanda.  



D.Kerajaan Banten

 Kedatangan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah ke Banten dari Demak adalah untuk meletakkan dasar bagi pengembangan agama Islam dan perdagangan orang-orang Islam. Setelah itu, beliau kembali dan menetap di Cirebon kemudian Banten diserahkan kepada putranya, yaitu Hasanuddin. Sejak saat itu, Hasanuddin resmi menjadi sultan pertama di Banten tahun 1552-1570 dan Banten diumumkan sebagai kerajaan Islam (kesultanan) di Jawa.  Sumber lain menyebutkan bahwa Hasanuddin menikah dengan putri raja Demak dan kemudian dinobatkan sebagai penguasa Banten pada tahun 1552. Pada tahun 1568, saat terjadi perebutan/peralihan kekuasaan ke Pajang, Hasanuddin melepaskan diri dari kekuasaan Demak. Dengan demikian, Hasanuddin merupakan pendiri dan sekaligus sebagai raja pertama Kerajaan Banten. 



Note :
Sekian aja yah Chingu :D maaf jika ada kesamaan materi dengan materi org lain dlam blog sya ini... :D Btw join bersama saya di youtube yah.. klik link aja :) Terimakasih :) ^^ sekian .. 

About Unknown

Hi, My Name is Hafeez Ullah Khan. I am a webdesigner, blogspot developer and UI designer. I am a certified Themeforest top contributor and popular at JavaScript engineers. We have a team of professinal programmers, developers work together and make unique blogger templates.

0 komentar:

Posting Komentar

Jam berapa sekarang ?

Blogger news

Copyright © All Rights Reserved

Designed by Templatezy